Selasa, 21 Mei 2013

DOA UNTUK IBU




Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu

CIRI ANAK INDIGO

Berikut beberapa ciri anak indigo yang saya cari dari beberapa sumber;


  • Memiliki IQ tinggi diatas rata rata sehingga mereka mampu mengingat dengan baik apa yang sudah terekam di dalam otaknya.
  • Memiliki suatu keinginan yang kuat.
  • Cenderung melakukan apa yang ada di pikirannya daripada menuruti kehendak orang tua. 
  • Bijaksana dan kadan bicaranya seperti orang dewasa.
  • Secara emosi, mereka dapat dengan mudahnya bereaksi sehingga tidak jarang mereka memiliki permasalahan dengan kecemasan. 
  • Sudah kreatif dalam berpikir dengan menggunakan otak kanan. 
  • Sangat peka dan dapat melihat, mendengar atau mengetahui sesuatu hal yang tidak dimiliki orang-orang kebanyakan.
  • Mempunyai gaya belajar secara visual dan kinestetik.
  • Apabila keinginannya tidak terpenuhi, maka mereka akan menjadi self centered, walaupun hal ini bukanlah sifat sebenarnya.
  • Mempunyai potensi bakat yang luar biasa.

SEJARAH IAID


Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.

Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.

Secara kronologis, sejarah perkembangan IAID dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, yaitu:

No.TanggalPeristiwa PentingDasar Hukum
101/06/1970Pendirian Fakultas Syari'ah IAIN SGD Bandung di Kampus Pesantren Darussalam, sebagai Cikal Bakal Berdirinya IAID Ciamis-
214/03/1972Fakultas Syari'ah Memperoleh Status TerdaftarSK Direktur Direktorat Perguruan Tinggi Agama No. Dd/I/PT/3/Nc.B-IV/3/50.336/1972
301/07/1972Pendirian Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis (Perubahan dari Fakultas Syari'ah menjadi Institut)SK Yayasan No. 07/YAKPI/VII/1972
401/01/1975Penetapan Lambang IAIDSK YAKPI No. 027/YAKPI/I/1975
518/08/1975Penetapan Statuta IAIDSK YAKPI No. 28 Tahun 1987
618/08/1975Penetapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga YAKPISK YAKPI No. 058/YAKPI/IV/1991
723/06/1979Pemberian Status Diakui Sama Dengan Tingkat Sarjana Muda (Bacaloreat) Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Negeri Kepada Tingkat Sarjana Muda (Bacaloreat) Fakultas Syari'ah IAID Ciamis Jawa BaratSK Menteri Agama No. 53 Tahun 1979
801/09/1985Pembukaan Jurusan Pendidikan Agama Islam Fak. TarbiyahSK Yayasan No. 06/YAKPI/II/1985
903/11/1986Pemberian Izin Operasional Jurusan Pendidikan Islam Fakultas TarbiyahSK Kopertais Wilayah II Jawa Barat Nomor 05 Tahun 1986
1001/12/1988Fakultas Syari'ah Memperoleh Status Penyesuaian Jalur dan Program Pendidikan Strata Satu untuk Jurusan Peradilan Agama (Qodlo)SK Menteri Agama Nomor 220 Tahun 1988
1127/05/1989Pemberian Status Terdaftar Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas TarbiyahSK Menteri Agama No. 109 Tahun 1989
1218/01/1993Pemberian Status Diakui Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas TarbiyahSK Menteri Agama No. 11 Tahun 1993
1301/02/1993Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syari'ah Memperoleh Status DisamakanSK Menteri Agama No. 14 Tahun 1993
1420/09/1995Perubahan Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah Menjadi Fakultas DakwahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
1520/09/1995Penetapan Kembali Status Disamakan Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syari'ahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
1620/09/1995Pemberian Status Terdaftar Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas DakwahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
1720/09/1995Pemberian Status Terdaftar Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas TarbiyahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
1820/09/1995Pemberian Status Terdaftar Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Fakultas DakwahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
1920/09/1995Pemberian Status Terdaftar Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syari'ahSK Menteri Agama No. 445 tahun 1995
2022/07/1997Penetapan Kembali Status Diakui Program Strata Satu Jurusan Pendidikan Agama Islam Fak. TarbiyahSK Dirjen Binbaga Islam No. E/151/1997
2115/10/1998Penetapan Kembali Status Disamakan Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syari'ahSK Dirjen Binbaga Islam No. E/330/1998
2223/06/2000Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syari'ah Memperoleh Status Terakreditasi  dari BAN PTSK BAN PT Nomor 012/BAN-PT/Ak-IV/VI/2000
2323/06/2000Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Memperoleh Status Terakreditasi  dari BAN PTSK BAN PT Nomor 012/BAN-PT/Ak-IV/VI/2000
2421/08/2002Pemberian Izin Operasional Program Diploma II (D.2) PGSD/PGMI dan PGTKISK Kopertais Wilayah II Jawa Barat dan Banten No. 240/KOP/II/S/2002
2510/06/2003Jurnal TAJDID Memperoleh Status Terakreditasi Pertama dari Dirjen Dikti Departemen Pdndidikan NasionalSK Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional R.I. Nomor 34/DIKTI/Kep/2003
2618/07/2003Program Studi Pendidikan Agama Islam Fak. Tarbiyah Memperoleh Status Terakreditasi Kembali (B) dari BAN PTSK BAN PT No. 015/BAN-PT/Ak-VII/S1/VII/2003; dengan Sertifikat Akreditasi No. 0562/Ak-VII-S1-015/IASPAI/VII/2003
2720/08/2003Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah Memperoleh Status Terakreditasi Kembali (B) dari BAN PTSK BAN PT No. 019/BAN-PT/Ak-VII/S1/VIII/2003
2826/08/2003Izin Penyelenggaraan Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Islam Program Magister Ilmu Agama Islam pada Program PPs IAIDSK Dirjen Kelembagaan Islam No. Dj.II/306/2003
2913/05/2005Perpanjangan Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Islam Fakultas TarbiyahSK Dirjen Kelembagaan Islam No. Dj.II/119/2005
3013/05/2005Perpanjangan Izin Penyelenggaraan Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syari'ahSK Dirjen Kelembagaan Islam No. Dj.II/119/2005
3112/07/2006Jurnal TAJDID Memperoleh Status Terakreditasi Kedua (Nilai B) dari Dirjen Dikti Departemen Pdndidikan NasionalSK Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional R.I. Nomor 55a/DIKTI/Kep/2006
3210/01/2007Perpanjangan Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Islam Program Pascasarjana (S2)SK Dirjen Kelembagaan Islam No. Dj.I/19/2007
3310/07/2007Izin Penyelenggaraan Program Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Jenjang Strata Satu (S1)SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor Dj.I/257/2007
 

Selasa, 30 April 2013

PSIKOLOGI SOSIAL


A.    Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi merupakan kata yang diambil dari bahasa Belanda psycologie atau dari bahasa Inggris psychology. Ditinjau dari sudut asal katanya, kata psycologie dan psychology berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua buah kata, yaitu psyce  dan logos yang berarti jiwa dan ilmu. Berdasarkan kedua pengertian itu, maka orang dengan mudah memberikan batasan atau pengertian psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa atau sering disebut dengan ilmu jiwa.
Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Para ahli dalam bidang interdisipliner ini pada umumnya adalah para ahli psikologi atau sosiologi, walaupun semua ahli psikologi sosial menggunakan baik individu maupun kelompok sebagai unit analisis mereka.
Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu bagian yang dinamakan "social psychological section", sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.
Pengertian psikologi sosial menurut para ahli adalah sebagai berikut.
1.      Baron & Byrne (2006), psikologi sosial adalah bidang ilmu yang mencari pemahaman tentang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam situasi-situasi sosial. Defenisi ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku dan pikiran.
2.      Sarlito Wirawan, setelah menyimpulkan beberapa defenisi psikologi sosial membedakan tiga wilayah studi psikologi sosial sebagai berikut:
a.       Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya studi tentang persepsi, motivasi, proses belajar, atribusi (sifat). Walaupun topik-topik ini bukan monopoli dari psikologi sosial, namun psikologi sosial tidak dapat menghindar dari studi tentang topik-topik ini. 
b.      Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial dan sebagainya. 
c.       Studi tentang interaksi kelompok, misalnya: kepemimpinan, komunikasi,hubungan kekuasaan, otoriter, konformitas (keselarasan), kerjasama, persaingan, peran dan sebagainya.
Lebih lanjut dia mendefenisikan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial (social psychology is the scientific study of individual behavior as a function of social stimuli; Shaw & Coztanzo).
3.      Gordon Allport (1985), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara:
a.       Nyata atau aktual.
b.      Dalam bayangan atau imajinasi.
c.       Dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
4.      David O Sears (1994), psikologi sosial adalah ilmu yang berusaha secara sistematis untuk memahami perilaku sosial, mengenai:
a.       Bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial. 
b.      Bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita. 
c.       Bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial.
5.      Sherif & Musfer (1956), psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam defenisi ini, stimulus sosial diartikan bukan hanya manusia, tetapi juga benda-benda dan hal-hal lain yang diberi makna sosial.
6.      Show & Costanzo (1970), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi stimulus-stimulus sosial. Defenisi ini tidak menekankan stimulus eksternal maupun proses internal, melainkan mementingkan hubungan timbal balik antara keduanya. Stimulus diberi makna tertentu oleh manusia dan selanjutnya manusia bereaksi sesuai dengan makna yang diberikannya itu.
7.      Baron & Byrne (2006), psikologi sosial adalah bidang ilmu yang mencari pemahaman tetnang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam situasi-situasi sosial. Defenisi ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku dan pikiran.
Dari berbagai pendapat tokoh-tokoh tentang pengertian psikologi sosial dapat disimpulkan bahwa psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial. Dengan demikian psikologi ini akan mencoba melihat keterkaitan masyarakat dengan kondisi psikologi kehidupan individu.
B.     Sejarah perkembangan Psikologi Sosial
Psikologi sosial menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu "Introduction to Social Psychology" ditulis oleh William McDougall seorang psikolog dan "Social Psychology : An Outline and Source Book, ditulis oleh E.A. Ross seorang sosiolog. Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami bahwa psikologi sosial bisa di claim sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi.
Sedangkan latar belakang timbulnya psikologi sosial, banyak beberapa tokoh berpendapat seperti, Gabriel Tarde dianggap sebagai bapak psikologi sosial, ia adalah seorang sosiolog dan kriminolog Prancis. Gabriel Tarde mengatakan, pokok-pokok teori psikologi sosial berpangkal pada proses imitasi sebagai dasar dari pada interaksi sosial antar manusia. Menurut pendapat Trade perkembangan proses imitasi dalam masyarakat itu merupakan kelangsungan yang dapat dirumuskan sebagai berikut.
a.       Timbul sebuah gagasan atau keyakinan baru di dalam masyarakat sebagai rangsangan pikiran.
b.      Ide baru ini, lalu diimitasi dan disebarkan oleh orang banyak di dalam masyarakat itu.
Jadi garis besarnya, kehidupan masyarakat itu ditentukan oleh dua macam kejadian utama. Pertama, timbulnya gagasan baru (inventions) yang dirumuskan oleh individu yang berbakat tinggi. Kedua, proses-proses imitasi dari gagasan-gagasan tersebut oleh orang banyak. Misalnya, berlakunya adat kebiasaan itu sebenarnya berdasarkan imitasi oleh individu-individu manusia yang turun temurun sehingga dapat menimbulkan tradisi-tradisi tertentu.
Berbeda lagi dengan Gustave Le Bon, bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa yaitu jiwa individu dan jiwa massa yang masing-masing berlainan sifatnya. Jiwa massa lebih bersifat primitif (buas, irasional, dan penuh sentimen) dari pada sifat-sifat jiwa individu.
Berlaianan dengan Le Bon, Sigmund Freud berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu, hanya saja sering tidak disadari oleh manusia itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berpendapat dalam buku yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan psikologi sosial.
Pada tahun 1950 dan 1960 psikologi sosial tumbuh secara aktif dan program gelar dalam psikologi dimulai disebagaian besar universitas . Dasar mempelajari psikologi sosial berdasarkan potensi–potensi manusia, dimana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat. Potensi-potensi tersebut antara lain:
  1. Kemampuan menggunakan bahasa. 
  2. Adanya sikap etik 
  3. Hidup dalam 3 dimensi (dulu, sekarang, akan datang)
Ketiga pokok di atas biasa disebut sebagai syarat human minimum. Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum dengan sendirinya sukar digolongkan sebagai masyarakat. Mengenai psikologi sosial terdapat pertentangan faham diantara beberapa tokoh ilmu jiwa sosial yang dalam garis besarnya dapat dikelompokan menjadi dua aliran yakni, aliran subyektifisme yang menyatakan bahwa individulah yang membentuk masyrakat dalam segala tingkah lakunya. Dan aliran kedua adalah, obyektivisme yang merupakan kebalikan dari aliran subyektivisme, bahwa masyarakatlah yang menentukan individu.
Selain dua aliran di atas, masih ada aliran yang membicarakan masalah hubungan antara individu dengan masyarakat diantaranya adalah aliran historis dan cultural personality.
Urutan Kronologi Perkembangan Psikologi Sosial
  1. 1898: Gabriel de Tarde mempublikasikan Etudes de Psychologie Sociale (Studies of Social Psychology) yang banyak membahas tentang imitasi, dasar teori belajar sosial dan konformitas. Dan dalam American Journal of Psychology, Norman Triplett menggambarkan eksperimen yang berkaitan dengan fasilitasi sosial. 
  2. 1908 : Edward Ross dan William McDougall mempublikasikan buku teks Psikologi Sosial.
  3. 1918 – 1920 : para psikolog sosial (W. I. Thomas dan F. Znaniecki’s) mulai mendefinisikan ranah mereka. Sikap menjadi konsep utama. 
  4. 1921 : The Journal of Abnormal Psychology menjadi The Journal of Abnormal and Social Psychology. 
  5. 1924: Floyd Allport mempublikasikan pengaruh sosial. 
  6. 1934 : George Herbert Mead mempublikasikan bukunya yang berjudul Mind, Self and Society yang menekankan pada interaksi antara diri (self) dan orang lain. 
  7. 1935 : Buku pegangan Psikologi Sosial untuk pertama kalinya diterbitkan dengan Carl Murchinson sebagai editornya. 
  8. 1936 : Muzafer Sherif menjelaskan proses konformitas dalam The Psychology of Social Norms. 
  9. 1939 : Kurt Lewin, bersama dengan muridnya Ronald Lippit dan Ralph White, melaporkan studi eksperimental mengenai gaya-gaya kepemimpinan. Pada tahun yang sama, Dollar-Miller mengenalkan teori frustasi-agresi. 
  10. 1941 : Dalam Social Learning and Imitation, Neal Miller dan Jhon Dollar mengemukakan teori yang perluasan dari prinsip-prinsip behavioristik dalam perilaku sosial. 
  11. 1945 : Kurt Lewin mengemukakan penelitian tentang Dinamika Kelompok.
  12.  1954 : Buku pegangan Psikologi Sosial edisi modern diterbitkan dengan Gardner Linzey sebagai editornya. 
  13. 1957 : Leon Festinger mempublikasikan A Theory of Cognitive Dissonance, yang menampilkan suatu model yang menekankan pada konsistensi antara pemikiran dan perilaku. 
  14. 1958 : Fritz Heider memberikan pondasi awal bagi teori atribusi melalui publikasi pada The Psychological of Interpersonal Behavior. 
  15. 1959 : Jhon Thibautdan Harold Kelley mempublikasikan The Social Psychology of Group yang merupakan pondasi bagi teori pertukaran sosial. 
  16. 1965 : The Journal of Abnormal and Social Psychology terbagi dalam dua publikasi yang terpisah, The Journal of Abnormal Psychology menjadi The Journal of Personality and Social Psychology. 
  17. 1985 : Edisi Ketiga buku pegangan Psikologi Sosial dipublikasikan dengan Gardner Linzey dan Elliot Aronson sebagai editornya.

C.    Tujuan Psikologi Sosial
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran Psikologi Sosial yang harus dicapai meliputi lima tujuan berikut.
1.      Membekali peserta didik dengan pengetahuan Psikologi Sosial sehingga tidak terpenagruh, atau tersugesti oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai baik.
2.      Membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, mengnalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara tetap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupan bersama.
3.      Membekali peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengarahan kepada tujuan dengan sebaik-baiknya.
4.      Membekali peserta didik denagn kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap sosialnya.
5.      Membekali peserta didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan psikologi sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat, perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.
D.    Metode Psikologi Sosial
Metode-metode yang biasa digunakan dalam penelitian psikologi sosial adalah sebagai berikut.
a.      Metode Eksperimen
Wilhelm wundt, yang pertama kali memakai dan mendasarkan metode ini untuk psikologi secara ilmiah, menetapkan beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh eksperimen psikologi.
1.      Kita harus dapat menentukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang ingin kita selidiki.
2.      Kita harus dapat mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin kita selidiki dari mulanya sampai pada akhirnya, dan kita harus mengamatinya dengan perhatian yang khusus.
3.      Tiap-tiap observasi (pengamatan) harus dapat kita ulangi dalam keadaan-keadaan yang sama.
4.      Kita harus dapat mengubah-ubah dengan sengaja syarat-syarat keadaan eksperimen.
Maksud metode eksperimen itu memanglah untuk menimbulkan dengan sengaja suatu gejala guna dapat menyelidiki berlangsungnya dengan persiapan yang cukup dan perhatian yang khusus. Dengan demikian dapat kita peroleh keterangan yang lebih mendalam mengenai suatu gejala serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dan wujud pengaruh-pengaruh faktor tersebut. Metode tes dalam penyelidikan psikologis sebenarnya termasuk metode eksperimen itu.
b.      Metode Survei
Metode ini merupakan metode dimana penyelidik mengumpulkan keterangan-keterangan seluas-luasnya mengenai kelompok tertentu yang ingin dia selidiki. Biasanya survei itu diadakan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan angket sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan-keterangan.
c.       Metode Diagnostik-psikis
Dalam mengumpulkan keterangan-keterangan empiris mengenai objek-objek penelitian psikologi yang dapat menggambarkan segi-segi psikologis dengan lebih mendalam untuk memperoleh keterangan mengenai pendapat-pendapat orang, cukuplah dirumuskan sebuah daftar pertanyaan (angket) yang lalu disebarkan dengan permintaan supaya pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan sejujur-jujurnya.
Skala sikap ada beberapa macam, dan masing-masing memerlukan percobaan-percobaan yang khas untuk menentukan, apakah taraf pengukurannya sesuai dengan kenyataan. Untuk menyesuaikan taraf pengukurannya dengan kenyataan, antara lain haruslah diadakan pengecekan terlebih dahulu dengan sikap-sikap orang yang sudah diketahui sikapnya dengan jelas.




d.      Metode Sosiometri
Metode ini, yang ditemukan oleh Moreno, merupakan metode baru dikalangan ilmu sosial, dan bermaksud untuk meneliti intra-group-relations atau saling berhubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok.
E.     Konsep Dasar Psikologi Sosial
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek pembahasan psikologi sosial adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menakklukkan makhluk yang lebih kuat, dan menciptakn segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan lingkumngannya.
Potensi-potensi yang dimiliki menusia sehingga membedakan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya adalah sebagai berkut (Ahmadi,2002).
5.      Kemempuan menggunakan bahasa. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini hanyalah semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian bisa merubah, menambah, dan mengembangkan bahasa yang dugunakan. Sedangkan pada binatang memamng ada tetapi masih sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi suara yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.
6.      Adanya sikap etik. Dalalm setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya baik itu masyarakat modern maupun masyarakat yang masih terbelakang sekalipun norma tersebut merupakan ketentuan apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak selalu sama antara msyarakat satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat kebiasaan, agama, dan perkembanagn kebudayaan umumnya dimana dia hidup.
7.      Hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah lakunya pada pengalaman masa lalunya, kebutuhan-kebutuhan sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada amsa yang akan datang.
Ketiga potensi di atas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat human minimum. Oleh karenanya baik tidak terdapat ketiga potensi ini maka akan sukar untuk dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahaman ini selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri pribadinya.
Dengan potensinya tersebut, manusia juga disebut sebagai makhluk monopluralis. Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai makhluk individu, sosial, dan ber-Tuhan.
1.      Makhluk individu. Manusia sebagai makhluk  individual berarti manusia itu mnerupoakan suatu totaliat.individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern, ditegaskan bahwa jiwa manusia itu meruoakan satu kesatuan jiw araga yang berkegiatan secara keseluruhan.
2.      Makhluk sosial. Manusia tidaklah mungkun hidup sendiri tanpaa danya komu\nikasi dengan manusia yang lainnya. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang alin. Ia memerlukan bantuan makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian pula setalah tumbuh lebih besar, berbicar, belajar, berjalan, mengenal benda, ,engenal  norma dan sebagainya selalu membutuhkan bantuanorang lain di sekitarnya.
3.      Makhluk ber-Tuhan. Sebagai manusia yang beragama, dalam kehidupoannya tidak bisa lepas dari pengakuan terhadap Tuhan. Hanay mereka yang tergolong atheis saja yang tidak mengakuai adanya Tuhan. Sebenarnya mereka yang atheis pun tanpa disadari telah menyatakan kebutuhannya kepada Tuahn meskipun tidak sempurna. Hali ini terbukti denagn aktivitasnya yang menyembah kepada dewa-dewa dan benda-benda lainnya.

F.     Ruang Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi Sosial yang menjadi objek studinya adalah segala gerak gerik atau tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau lingkungan sosiaolnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari adalah pengaruh sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial yang mempengaruhi tinghkah laku individu. Berdasarkan inilah Psikologi Sosial membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial (Ahmadi, 2005).
Ditinjau dari segi objeknya, sikologi dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu
a. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia
b. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari hewan
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi Sosial adalah kegiatan-kegiatan sisoalnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas deri alam sekitar.
Sedangkan dalam Psikologi Sosial masalah yang dikupas adalah manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan individu dengan ndividu yang lain dalam kelompoknya.
Psikologi Sosial dalam membicarakan objek pembahasannya dapat pula bersamaan dengan sosiologi. Masalah-masalah sosial yang dibicarakan dalam sosiologi adalah kelompok-kelompok manusia dalam satu kesatuan seperti macam-macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan macam-macam kepemimpinannya. Sedangakan dalam Psikologi Sosial adalah meninjau hubungan individu yang satu dengsan yang lainnya seperti bagaimana pengaruh terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota, pengaruh terhadap kelompok lainnya.
Persamaaaan-persamaan pembahasan sebagaimana penjelasan di atas dapat disimpuilkan bahwa ruang lingkup pembahasan Psikologi Sosial berada pada ruang antara psikologi dan sosiologi. Titik persinggungan inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan memunculkan ilmu baru dalam lapangan psikologi, yakni Psikologi Sosial. Psikologi Sosial merupakan bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari tingkah laku manusia atau kegiatan-kegiatan manuisa dalam hubungannya denagn situasi-situasi sosialnya. (Ahmadi, 2002).
G.    Implementasi Psikologi Sosial
Dalam setiap masalah atau kasus yang terjadi di masyarakat pada umumnya disebabkan adanya ketidakseimbangan perhatian atau pembinaan terhadap kedua aspek yang ada di dalam diri manusia, yakni aspek jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbanagn kedua aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap setiap perilaku individu.
Terkait hal di atas dapat dicontohkan dalam kasus sebagai berikjut: seorang remaja yang berusia 8 tahun yang sedang duduk di bangku SMA memiliki sifat introvert. Lingkungan yang keras dan minimnya pengetahuan tentang keagamaan telah membesarkannya menjadi orang yang mudah terpengaruh pada situasi dan kondisi di lingkungan sekitarnya.
Selain dari lingkunagn sekitarnya, kasus yang terjadi pada anak ini juga dilatar belakangi oleh keadaan keluarganya yang broken home sehingga mengakibatkan pengaruh-pengaruh yang buruk dari lingkungan keluarga juga dengan mudah memasuki kehidupannya. Hampir tiap malam anak ini bergaul dengan teman di lingkungannya yang sering berjudi dan mabuk-mabnukan sehingga proses pendidikannya terganggu.
Terkait dengan kasus kenakalan remaja di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh lingkungan yang buruk dan kurangnya perhatian orang tua (broken home) sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaaan dan kerohanian pada diri anak. Dalam hal ini yang paling utama adalah penanaman jiwa keagamaan anak sejak dini. Jadi, peranan keagamaan pada diri anak sangat penting dalam kehidpannya, karena dengan pendidikan agama diharapakan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat negatif dalam kehidupan bermasyarakat. (Arifin, 2004).
Pendidikan agama dalam hal ini adalah pendidikan islam yang tidak dibatasi oleh institusi (kelembagaan) ataupun pada kalanagn pendidikan tertentu. Pendidikan islam disinidiartikan sebagai nup[aya yang dilakukan oleh mreka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaaan, bimbingan, pengembanagn, serta pengarahan potensi yang dimiliki anaka agr mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana  hakikat kejadiannya.
Studi pada kasus di atas memberikan ilustrasi bahwa betapa besarnya penagruh lingkungan terhadap perilaku individu dalam kelompok sosial. Psikologi Sosial dalam hal ini membantu memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan keagamaan. Perangsang sosial yang berupa pendidikan keagamaan dan lingkungan sosial yang penuh dengan kekeluargaan diharapkan mampu merubah perilaku individu menjadi lebih baik, sehingga secara bertahap persoalan mendasar dari pengaruh buruk lingkungan akan terkikis dan tergantikan dengan pengaruh yang baik dari pendidikan keagamaan.
H.    Manfaat Psikologi Sosial
1.      Hidup yang termotivasi
Hidup penuh dengan keinginan-keinginan yang ingin kita capai dan selesaikan. Dengan psikologi sosial, kita dapat mempelajari cara bagaimana kita meningkatkan kapasitas sosialisasi dalam bermasyarakat secara lebih baik. Contoh sederhana yang dapat kita lakukan adalah memberi reward sendiri terhadap diri kita ketika kita telah berhasil melakukan sebuah tugas dengan baik, misalnya makan malam yang lebih mewah sedikit.
2.      Dapat memperkaya gaya kepemimpinan kita
Tidak harus menjadi seorang manejer disebuah perusahaan terkenal agar kita belajar tentang kepemimpinan. Walaupun untuk hak-hal yang sederhana, melatih kepemimpinan itu sangat berguna buat kehidupan kita, karena kita sadar bahwa tidak semua orang terlahir untuk jadi pemimpin.
Jadi, psikologi menjadi jembatan untuk kita dapat menjadi pemimpin yang baik paling tidak bagi diri kita sendiri. Contoh sederhana yang bisa kita lakukan adalah ikut berkerja sama dengan kelompok-kelompok sosial disekitar kita.
3.      Meningkatkan cara berkomunikasi kita
Jika dokter memiliki istilah bertangan dingin maka untuk psikolog ada istilah berbibir dingin karena senjatanyanya adalah kata-kata. Tak heran kalau kita tidak perlu jadi seorang psikolog agar menjadi seorang good communicator. Dengan psikologi, kita dapat belajar pentingnya sikap nonverbal (tidak dengan kata-kata) dalam berkomunikasi dengan orang lain, seperti mimik wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain. Dengan ini, akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain dan dapat mengirimkan pesan kita kepada orang melalui komunikasi yang efektif.
Contoh sederhana yang bisa kita lakukan adalah menggunakan kontak mata baik dan pas ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain.
4.      Belajar berempati dengan orang lain
Empati lebih tinggi tingkatannya dari pada simpati. Dengan berempati, kita berusaha untuk masuk ke sisi orang lain, merasakan apa yang orang lain rasakan dari sisi orang lain itu. Jadi psikologi mengajari kita untuk lebih peka terhadap orang-orang disekitar kita.
Melalui empati, kita juga belajar untuk memahami dan mengerti orang lain dengan tulus dan niat untuk membantu secara ikhlas. Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan peka mencoba mengerti perasaan orang lain yang ada disekitar kita. Ini juga akan melatih diri untuk lebih mengenal dan mengerti perasaan diri kita sendiri.