A.
Pengertian
Psikologi Sosial
Psikologi merupakan kata yang diambil dari
bahasa Belanda psycologie atau dari
bahasa Inggris psychology. Ditinjau
dari sudut asal katanya, kata psycologie
dan psychology berasal dari bahasa
Yunani yang terdiri dari dua buah kata, yaitu psyce dan logos
yang berarti jiwa dan ilmu. Berdasarkan kedua pengertian itu, maka orang dengan
mudah memberikan batasan atau pengertian psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang
jiwa atau sering disebut dengan ilmu jiwa.
Psikologi
sosial
adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Para ahli
dalam bidang interdisipliner
ini pada umumnya adalah para ahli psikologi
atau sosiologi,
walaupun semua ahli psikologi sosial menggunakan baik individu
maupun kelompok
sebagai unit analisis
mereka.
Psikologi sosial juga merupakan pokok
bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif
utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur
sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan
psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika
disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi - di American Sociological
Association terdapat satu bagian yang dinamakan "social
psychological section", sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin
psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya
tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga
dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.
Pengertian psikologi sosial menurut para
ahli adalah sebagai berikut.
1. Baron & Byrne (2006),
psikologi sosial adalah bidang
ilmu yang mencari pemahaman tentang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta
perilaku individu dalam situasi-situasi sosial. Defenisi ini menekankan pada
pentingnya pemahaman terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku dan
pikiran.
2. Sarlito Wirawan, setelah
menyimpulkan beberapa defenisi psikologi sosial membedakan tiga wilayah studi
psikologi sosial sebagai berikut:
a. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu,
misalnya studi tentang persepsi, motivasi, proses belajar, atribusi (sifat).
Walaupun topik-topik ini bukan monopoli dari psikologi sosial, namun psikologi
sosial tidak dapat menghindar dari studi tentang topik-topik ini.
b. Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti
bahasa, sikap sosial dan sebagainya.
c. Studi tentang interaksi kelompok, misalnya: kepemimpinan,
komunikasi,hubungan kekuasaan, otoriter, konformitas (keselarasan), kerjasama,
persaingan, peran dan sebagainya.
Lebih lanjut
dia mendefenisikan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari
tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial (social
psychology is the scientific study of individual behavior as a function of
social stimuli; Shaw & Coztanzo).
3. Gordon Allport (1985),
psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan
bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh
kehadiran orang lain, baik secara:
a. Nyata
atau aktual.
b. Dalam
bayangan atau imajinasi.
c. Dalam
kehadiran yang tidak langsung (implied).
4. David O Sears (1994),
psikologi sosial adalah ilmu yang berusaha secara sistematis untuk memahami
perilaku sosial, mengenai:
a. Bagaimana
kita mengamati orang lain dan situasi sosial.
b. Bagaimana
orang lain bereaksi terhadap kita.
c. Bagaimana
kita dipengaruhi oleh situasi sosial.
5. Sherif & Musfer
(1956), psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu
dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam defenisi ini, stimulus
sosial diartikan bukan hanya manusia, tetapi juga benda-benda dan hal-hal lain
yang diberi makna sosial.
6. Show & Costanzo
(1970), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku
individual sebagai fungsi stimulus-stimulus sosial. Defenisi ini tidak
menekankan stimulus eksternal maupun proses internal, melainkan mementingkan
hubungan timbal balik antara keduanya. Stimulus diberi makna tertentu oleh
manusia dan selanjutnya manusia bereaksi sesuai dengan makna yang diberikannya
itu.
7. Baron & Byrne (2006),
psikologi sosial adalah bidang
ilmu yang mencari pemahaman tetnang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran
serta perilaku individu dalam situasi-situasi sosial. Defenisi ini menekankan
pada pentingnya pemahaman terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku
dan pikiran.
Dari berbagai pendapat tokoh-tokoh tentang
pengertian psikologi sosial dapat disimpulkan bahwa psikologi sosial adalah
suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam
hubungannya dengan situasi sosial. Dengan demikian psikologi ini akan mencoba
melihat keterkaitan masyarakat dengan kondisi psikologi kehidupan individu.
B.
Sejarah
perkembangan Psikologi Sosial
Psikologi
sosial menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada
dua buku teks yang terkenal yaitu "Introduction to Social Psychology"
ditulis oleh William McDougall
seorang psikolog dan "Social Psychology : An Outline and Source Book,
ditulis oleh E.A. Ross
seorang sosiolog. Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami
bahwa psikologi sosial bisa di claim
sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi.
Sedangkan
latar belakang timbulnya psikologi sosial, banyak beberapa tokoh berpendapat
seperti, Gabriel Tarde dianggap sebagai bapak psikologi sosial, ia adalah
seorang sosiolog dan kriminolog Prancis. Gabriel Tarde mengatakan, pokok-pokok
teori psikologi sosial berpangkal pada proses imitasi sebagai dasar dari pada
interaksi sosial antar manusia. Menurut pendapat Trade perkembangan proses
imitasi dalam masyarakat itu merupakan kelangsungan yang dapat dirumuskan
sebagai berikut.
a. Timbul
sebuah gagasan atau keyakinan baru di dalam masyarakat sebagai rangsangan
pikiran.
b. Ide
baru ini, lalu diimitasi dan disebarkan oleh orang banyak di dalam masyarakat
itu.
Jadi
garis besarnya, kehidupan masyarakat itu ditentukan oleh dua macam kejadian
utama. Pertama, timbulnya gagasan baru (inventions) yang dirumuskan oleh
individu yang berbakat tinggi. Kedua, proses-proses imitasi dari
gagasan-gagasan tersebut oleh orang banyak. Misalnya, berlakunya adat kebiasaan
itu sebenarnya berdasarkan imitasi oleh individu-individu manusia yang turun
temurun sehingga dapat menimbulkan tradisi-tradisi tertentu.
Berbeda
lagi dengan Gustave Le Bon, bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa yaitu
jiwa individu dan jiwa massa yang masing-masing berlainan sifatnya. Jiwa massa
lebih bersifat primitif (buas, irasional, dan penuh sentimen) dari pada
sifat-sifat jiwa individu.
Berlaianan
dengan Le Bon, Sigmund Freud berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah
terdapat dan tercakup oleh jiwa individu, hanya saja sering tidak disadari oleh
manusia itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam. Dan masih banyak
lagi tokoh-tokoh yang berpendapat dalam buku yang mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan psikologi sosial.
Pada
tahun 1950 dan 1960 psikologi sosial tumbuh secara aktif dan program gelar
dalam psikologi dimulai disebagaian besar universitas . Dasar mempelajari psikologi
sosial berdasarkan potensi–potensi manusia, dimana potensi ini mengalami proses
perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat.
Potensi-potensi tersebut antara lain:
- Kemampuan
menggunakan bahasa.
- Adanya
sikap etik
- Hidup
dalam 3 dimensi (dulu, sekarang, akan datang)
Ketiga pokok di atas biasa disebut
sebagai syarat human minimum. Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum
dengan sendirinya sukar digolongkan sebagai masyarakat. Mengenai psikologi
sosial terdapat pertentangan faham diantara beberapa tokoh ilmu jiwa sosial
yang dalam garis besarnya dapat dikelompokan menjadi dua aliran yakni, aliran
subyektifisme yang menyatakan bahwa individulah yang membentuk masyrakat dalam
segala tingkah lakunya. Dan aliran kedua adalah, obyektivisme yang merupakan
kebalikan dari aliran subyektivisme, bahwa masyarakatlah yang menentukan
individu.
Selain
dua aliran di atas, masih ada aliran yang membicarakan masalah hubungan antara
individu dengan masyarakat diantaranya adalah aliran historis dan cultural
personality.
Urutan Kronologi Perkembangan
Psikologi Sosial
- 1898:
Gabriel de Tarde mempublikasikan Etudes de Psychologie Sociale (Studies
of Social Psychology) yang banyak membahas tentang imitasi,
dasar teori belajar sosial dan konformitas. Dan dalam American Journal
of Psychology, Norman Triplett menggambarkan eksperimen yang berkaitan
dengan fasilitasi sosial.
- 1908
: Edward Ross dan William McDougall mempublikasikan buku teks Psikologi
Sosial.
- 1918
– 1920 : para psikolog sosial (W. I. Thomas dan F. Znaniecki’s) mulai
mendefinisikan ranah mereka. Sikap menjadi konsep utama.
- 1921
: The Journal of Abnormal Psychology menjadi The Journal of
Abnormal and Social Psychology.
- 1924:
Floyd Allport mempublikasikan pengaruh sosial.
- 1934
: George Herbert Mead mempublikasikan bukunya yang berjudul Mind,
Self and Society yang menekankan pada interaksi antara diri (self) dan
orang lain.
- 1935
: Buku pegangan Psikologi Sosial untuk pertama kalinya diterbitkan dengan Carl
Murchinson sebagai editornya.
- 1936
: Muzafer Sherif menjelaskan proses konformitas dalam The
Psychology of Social Norms.
- 1939
: Kurt Lewin, bersama dengan muridnya Ronald Lippit dan Ralph White,
melaporkan studi eksperimental mengenai gaya-gaya kepemimpinan. Pada tahun
yang sama, Dollar-Miller mengenalkan teori frustasi-agresi.
- 1941
: Dalam Social Learning and Imitation, Neal Miller dan Jhon Dollar
mengemukakan teori yang perluasan dari prinsip-prinsip behavioristik dalam
perilaku sosial.
- 1945
: Kurt Lewin mengemukakan penelitian tentang Dinamika Kelompok.
- 1954
: Buku pegangan Psikologi Sosial edisi modern diterbitkan dengan Gardner
Linzey sebagai editornya.
- 1957
: Leon Festinger mempublikasikan A Theory of Cognitive
Dissonance, yang menampilkan suatu model yang menekankan pada
konsistensi antara pemikiran dan perilaku.
- 1958
: Fritz Heider memberikan pondasi awal bagi teori atribusi melalui
publikasi pada The Psychological of Interpersonal Behavior.
- 1959
: Jhon Thibautdan Harold Kelley mempublikasikan The Social
Psychology of Group yang merupakan pondasi bagi teori pertukaran
sosial.
- 1965
: The Journal of Abnormal and Social Psychology terbagi
dalam dua publikasi yang terpisah, The Journal of Abnormal Psychology
menjadi The Journal of Personality and Social Psychology.
- 1985
: Edisi Ketiga buku pegangan Psikologi Sosial dipublikasikan dengan
Gardner Linzey dan Elliot Aronson sebagai editornya.
C.
Tujuan
Psikologi Sosial
Sama
halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran Psikologi
Sosial yang harus dicapai meliputi lima tujuan berikut.
1. Membekali
peserta didik dengan pengetahuan Psikologi Sosial sehingga tidak terpenagruh,
atau tersugesti oleh situasi sosial yang selamanya tidak bernilai baik.
2. Membekali
peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, mengnalisa dan menyusun
alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara tetap dan sisitematis
mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupan bersama.
3. Membekali
peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat
sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan
pengarahan kepada tujuan dengan sebaik-baiknya.
4. Membekali
peserta didik denagn kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu
merubah sifat dan sikap sosialnya.
5. Membekali
peserta didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan psikologi
sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat,
perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.
D.
Metode
Psikologi Sosial
Metode-metode yang biasa digunakan dalam
penelitian psikologi sosial adalah sebagai berikut.
a.
Metode
Eksperimen
Wilhelm
wundt, yang pertama kali memakai dan mendasarkan metode ini untuk psikologi
secara ilmiah, menetapkan beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh
eksperimen psikologi.
1. Kita
harus dapat menentukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang ingin kita
selidiki.
2. Kita
harus dapat mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin kita selidiki dari
mulanya sampai pada akhirnya, dan kita harus mengamatinya dengan perhatian yang
khusus.
3. Tiap-tiap
observasi (pengamatan) harus dapat kita ulangi dalam keadaan-keadaan yang sama.
4. Kita
harus dapat mengubah-ubah dengan sengaja syarat-syarat keadaan eksperimen.
Maksud
metode eksperimen itu memanglah untuk menimbulkan dengan sengaja suatu gejala
guna dapat menyelidiki berlangsungnya dengan persiapan yang cukup dan perhatian
yang khusus. Dengan demikian dapat kita peroleh keterangan yang lebih mendalam
mengenai suatu gejala serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dan wujud
pengaruh-pengaruh faktor tersebut. Metode tes dalam penyelidikan psikologis
sebenarnya termasuk metode eksperimen itu.
b.
Metode
Survei
Metode
ini merupakan metode dimana penyelidik mengumpulkan keterangan-keterangan
seluas-luasnya mengenai kelompok tertentu yang ingin dia selidiki. Biasanya
survei itu diadakan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan angket sebagai
alat untuk mengumpulkan keterangan-keterangan.
c.
Metode
Diagnostik-psikis
Dalam
mengumpulkan keterangan-keterangan empiris mengenai objek-objek penelitian
psikologi yang dapat menggambarkan segi-segi psikologis dengan lebih mendalam
untuk memperoleh keterangan mengenai pendapat-pendapat orang, cukuplah
dirumuskan sebuah daftar pertanyaan (angket) yang lalu disebarkan dengan
permintaan supaya pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan sejujur-jujurnya.
Skala
sikap ada beberapa macam, dan masing-masing memerlukan percobaan-percobaan yang
khas untuk menentukan, apakah taraf pengukurannya sesuai dengan kenyataan.
Untuk menyesuaikan taraf pengukurannya dengan kenyataan, antara lain haruslah
diadakan pengecekan terlebih dahulu dengan sikap-sikap orang yang sudah
diketahui sikapnya dengan jelas.
d.
Metode
Sosiometri
Metode
ini, yang ditemukan oleh Moreno,
merupakan metode baru dikalangan ilmu sosial, dan bermaksud untuk meneliti intra-group-relations atau saling
berhubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok.
E.
Konsep
Dasar Psikologi Sosial
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek
pembahasan psikologi sosial adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia
adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan
kemauan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menakklukkan
makhluk yang lebih kuat, dan menciptakn segala sesuatu yang dapat
menyempurnakan dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia
terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah individu
tersebut berinteraksi dengan lingkumngannya.
Potensi-potensi yang dimiliki menusia
sehingga membedakan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya adalah sebagai
berkut (Ahmadi,2002).
5. Kemempuan
menggunakan bahasa. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini
hanyalah semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian bisa merubah,
menambah, dan mengembangkan bahasa yang dugunakan. Sedangkan pada binatang
memamng ada tetapi masih sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi suara
yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.
6. Adanya
sikap etik. Dalalm setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-norma
yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya baik itu masyarakat modern maupun
masyarakat yang masih terbelakang sekalipun norma tersebut merupakan ketentuan
apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak
selalu sama antara msyarakat satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat
kebiasaan, agama, dan perkembanagn kebudayaan umumnya dimana dia hidup.
7. Hidup
dalam 3 dimensi waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi
waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah lakunya pada pengalaman masa lalunya,
kebutuhan-kebutuhan sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada amsa yang akan
datang.
Ketiga potensi di atas oleh para ahli
dijadikan sebagai syarat human minimum. Oleh karenanya baik tidak terdapat
ketiga potensi ini maka akan sukar untuk dikelompokkan sebagai masyarakat
manusia. Pemahaman ini selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan kecakapan
dan potensi diri pribadinya.
Dengan potensinya tersebut, manusia juga
disebut sebagai makhluk monopluralis. Disebut demikian karena manusia dapat
dipandang sebagai makhluk individu, sosial, dan ber-Tuhan.
1. Makhluk
individu. Manusia sebagai makhluk individual berarti manusia itu
mnerupoakan suatu totaliat.individu berasal dari kata in-dividere yang berarti
tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern, ditegaskan bahwa jiwa manusia
itu meruoakan satu kesatuan jiw araga yang berkegiatan secara keseluruhan.
2. Makhluk
sosial. Manusia tidaklah mungkun hidup sendiri tanpaa danya komu\nikasi dengan
manusia yang lainnya. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang alin.
Ia memerlukan bantuan makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya.
Demikian pula setalah tumbuh lebih besar, berbicar, belajar, berjalan, mengenal
benda, ,engenal norma dan sebagainya selalu membutuhkan bantuanorang lain
di sekitarnya.
3. Makhluk
ber-Tuhan. Sebagai manusia yang beragama, dalam kehidupoannya tidak bisa lepas
dari pengakuan terhadap Tuhan. Hanay mereka yang tergolong atheis saja yang
tidak mengakuai adanya Tuhan. Sebenarnya mereka yang atheis pun tanpa disadari
telah menyatakan kebutuhannya kepada Tuahn meskipun tidak sempurna. Hali ini
terbukti denagn aktivitasnya yang menyembah kepada dewa-dewa dan benda-benda
lainnya.
F.
Ruang
Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi Sosial yang menjadi objek
studinya adalah segala gerak gerik atau tingkah laku yang timbul dalam konteks
sosial atau lingkungan sosiaolnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari
adalah pengaruh sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial yang
mempengaruhi tinghkah laku individu. Berdasarkan inilah Psikologi Sosial
membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam
hubungannya dengan situasi perangsang sosial (Ahmadi, 2005).
Ditinjau dari
segi objeknya, sikologi dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu
a. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia
b. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari hewan
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial
tidaklah berbeda dengan psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena
Psikologi Sosial adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek
pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi Sosial
adalah kegiatan-kegiatan sisoalnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum
adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas
deri alam sekitar.
Sedangkan dalam Psikologi Sosial masalah
yang dikupas adalah manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan
individu dengan ndividu yang lain dalam kelompoknya.
Psikologi Sosial dalam membicarakan
objek pembahasannya dapat pula bersamaan dengan sosiologi. Masalah-masalah
sosial yang dibicarakan dalam sosiologi adalah kelompok-kelompok manusia dalam
satu kesatuan seperti macam-macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan
macam-macam kepemimpinannya. Sedangakan dalam Psikologi Sosial adalah meninjau
hubungan individu yang satu dengsan yang lainnya seperti bagaimana pengaruh
terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota, pengaruh terhadap kelompok
lainnya.
Persamaaaan-persamaan pembahasan
sebagaimana penjelasan di atas dapat disimpuilkan bahwa ruang lingkup pembahasan
Psikologi Sosial berada pada ruang antara psikologi dan sosiologi. Titik
persinggungan inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan memunculkan
ilmu baru dalam lapangan psikologi, yakni Psikologi Sosial. Psikologi Sosial
merupakan bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari tingkah laku
manusia atau kegiatan-kegiatan manuisa dalam hubungannya denagn situasi-situasi
sosialnya. (Ahmadi, 2002).
G.
Implementasi
Psikologi Sosial
Dalam setiap masalah atau kasus yang
terjadi di masyarakat pada umumnya disebabkan adanya ketidakseimbangan perhatian
atau pembinaan terhadap kedua aspek yang ada di dalam diri manusia, yakni aspek
jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbanagn kedua aspek tersebut
sangat berpengaruh terhadap setiap perilaku individu.
Terkait hal di atas dapat dicontohkan
dalam kasus sebagai berikjut: seorang remaja yang berusia 8 tahun yang sedang
duduk di bangku SMA memiliki sifat introvert.
Lingkungan yang keras dan minimnya pengetahuan tentang keagamaan telah
membesarkannya menjadi orang yang mudah terpengaruh pada situasi dan kondisi di
lingkungan sekitarnya.
Selain dari lingkunagn sekitarnya, kasus
yang terjadi pada anak ini juga dilatar belakangi oleh keadaan keluarganya yang
broken home sehingga mengakibatkan
pengaruh-pengaruh yang buruk dari lingkungan keluarga juga dengan mudah
memasuki kehidupannya. Hampir tiap malam anak ini bergaul dengan teman di
lingkungannya yang sering berjudi dan mabuk-mabnukan sehingga proses
pendidikannya terganggu.
Terkait dengan kasus kenakalan remaja di
atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh lingkungan yang buruk dan
kurangnya perhatian orang tua (broken home) sangat berpengaruh terhadap
perkembangan jiwa keagamaaan dan kerohanian pada diri anak. Dalam hal ini yang
paling utama adalah penanaman jiwa keagamaan anak sejak dini. Jadi, peranan
keagamaan pada diri anak sangat penting dalam kehidpannya, karena dengan
pendidikan agama diharapakan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat
negatif dalam kehidupan bermasyarakat. (Arifin, 2004).
Pendidikan agama dalam hal ini adalah
pendidikan islam yang tidak dibatasi oleh institusi (kelembagaan) ataupun pada
kalanagn pendidikan tertentu. Pendidikan islam disinidiartikan sebagai nup[aya
yang dilakukan oleh mreka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaaan,
bimbingan, pengembanagn, serta pengarahan potensi yang dimiliki anaka agr
mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakikat kejadiannya.
Studi pada kasus di atas memberikan
ilustrasi bahwa betapa besarnya penagruh lingkungan terhadap perilaku individu
dalam kelompok sosial. Psikologi Sosial dalam hal ini membantu memberikan pemecahan
persoalannya dengan upaya pendidikan keagamaan. Perangsang sosial yang berupa
pendidikan keagamaan dan lingkungan sosial yang penuh dengan kekeluargaan
diharapkan mampu merubah perilaku individu menjadi lebih baik, sehingga secara
bertahap persoalan mendasar dari pengaruh buruk lingkungan akan terkikis dan
tergantikan dengan pengaruh yang baik dari pendidikan keagamaan.
H.
Manfaat
Psikologi Sosial
1.
Hidup yang termotivasi
Hidup penuh dengan keinginan-keinginan
yang ingin kita capai dan selesaikan. Dengan psikologi sosial, kita dapat
mempelajari cara bagaimana kita meningkatkan kapasitas sosialisasi dalam
bermasyarakat secara lebih baik. Contoh sederhana yang dapat kita lakukan
adalah memberi reward sendiri terhadap diri kita ketika kita
telah berhasil melakukan sebuah tugas dengan baik, misalnya makan malam yang
lebih mewah sedikit.
2.
Dapat memperkaya gaya kepemimpinan
kita
Tidak harus menjadi seorang manejer
disebuah perusahaan terkenal agar kita belajar tentang kepemimpinan. Walaupun
untuk hak-hal yang sederhana, melatih kepemimpinan itu sangat berguna buat
kehidupan kita, karena kita sadar bahwa tidak semua orang terlahir untuk jadi
pemimpin.
Jadi,
psikologi menjadi jembatan untuk kita dapat menjadi pemimpin yang baik paling
tidak bagi diri kita sendiri. Contoh sederhana yang bisa kita lakukan adalah
ikut berkerja sama dengan kelompok-kelompok sosial disekitar kita.
3.
Meningkatkan cara berkomunikasi
kita
Jika dokter memiliki istilah bertangan
dingin maka untuk psikolog ada istilah berbibir dingin karena
senjatanyanya adalah kata-kata. Tak heran kalau kita tidak perlu jadi seorang
psikolog agar menjadi seorang good communicator. Dengan psikologi,
kita dapat belajar pentingnya sikap nonverbal (tidak dengan kata-kata) dalam
berkomunikasi dengan orang lain, seperti mimik wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain.
Dengan ini, akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain dan
dapat mengirimkan pesan kita kepada orang melalui komunikasi yang efektif.
Contoh sederhana yang bisa kita lakukan
adalah menggunakan kontak mata baik dan pas ketika kita sedang berkomunikasi
dengan orang lain.
4.
Belajar berempati dengan orang lain
Empati lebih tinggi tingkatannya dari
pada simpati. Dengan berempati, kita berusaha untuk masuk ke sisi orang lain,
merasakan apa yang orang lain rasakan dari sisi orang lain itu. Jadi psikologi
mengajari kita untuk lebih peka terhadap orang-orang disekitar kita.
Melalui empati, kita juga belajar untuk
memahami dan mengerti orang lain dengan tulus dan niat untuk membantu secara
ikhlas. Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan peka mencoba
mengerti perasaan orang lain yang ada disekitar kita. Ini juga akan melatih
diri untuk lebih mengenal dan mengerti perasaan diri kita sendiri.